Asrama PP. Aswaj Putra

Asrama PP. Aswaj Putri

Kaligrafi 1

Kaligrafi 2

Kaligrafi 3

Kaligrafi 4

Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

19 Januari 2024

Kisah yang terulang

 Karya : Siti Safinatul Maulidaniyah*

Kring… kring… kring… terdengar bunyi bel sepeda dibelakangku. Namaku Syeila Dewi Afkarina dipanggil Syeila

“Mmm… maaf ada yang bisa saya bantu ?” tanyaku pada pengemudi sepeda dibelakangku.

“Gak ada” jawabnya.

“Kamu Syeila kan?” tanyanya sambil tersenyum

“Maaf… anda kok bisa tau sama saya?” tanyaku terkejut

“Ya tau aja” jawabnya sambil mengayuh sepeda dan mulai menjauh dariku

“Syeila kita bakal ketemu lagi nanti” ucapnya dari kejauhan

“Hmm… dasar! orang aku gak kenal udah sok tau nama gue segala lagi” ucapku

***

“Syeila bangun sayang” ucap mamaku diambang pintu

“Hmm… iya ma! Aku udah bangun kok” jawabku sabil mengusap mata

“Cepetan sayang ada yang nyariin kamu nih!”

“Aku mandi dulu” ucapku

“Iya cepet sayang” jawab mama

Selang beberapa menit kemudian

***

Kling… terdengar handponeku berbunyi, kemudian kuraih hpku yang berada diatas kasur

“Siapa sih pagi-pagi gini yang chat aku?”

    Terjadilah percakapan dilayar hp

Nomor tidak dikenal :

"Syel aku kangen, masih ingat aku kan?"

Syeila :

"Siapa? aku gak kenal"

Nomor tidak dikenal :

"Kamu pasti bakalan tau nanti, kita akan segera ketemu lagi"

Syeila :

"Gak jelas"

                                                                                                

***

“Ma, mana orang yang nyariin aku?” Tanyaku

“Orangnya udah pulang, katanya dia temen kamu” ucap mama

“Siapa namanya ma?” tanyaku kembali

“Raihan Zainur Fatih… kalau gak salah sih” ucap mama

Deg, detak jantungku terasa terhenti mendengar nama itu, mengingat kejadian satu tahun yang lalu.

1 tahun yang lalu

Suasana hatiku berkecamuk, firasatku memburuk, kakiku melangkah tanpa arah dan….

Gubraaakkkk… akupun menabrak seseorang didepanku

“Maaf…” ucapku

Dan seseorang itu membantuku bangun namun, aku tak mampy melihat sempurna karena penglihatanku mulai buram

“Syel bangun” terdengar seseorang memanggil namaku namun, kesadaranku sudah habis.

1 jam berlalu

Aku terbangun dari tidurku dan orang pertama yang kulihat adalah mama

“Ma, orang yang nolongin syeila mana?” tanyaku

“Oooh dia baru saja pulang sayang, kasihan dia dari tadi mondar-mandir khawatir sama keadaan kamu” ucap mama

“Dia siapa ma?” tanyaku penasaran

“Aku gak kenal” lanjutku bertanya

“Mama juga gak kenal tapi, kayaknya dia suka sama kamu, emangnya kamu gak pacaran sayang?” Tanya mamaku sambil tersenyum

“Iiih mama apaan sih, enggak syeila gak pacaran kok” ucapku menjelaskan

“Oh iya sayang tadi sebelum dia pulang dia sempet nitip surat buat kamu, nih dibaca” ucap mama sambil menyodorkan secarik kertas kepadaku

“Makasih ma” ucapku

“Hmm kayaknya ada yang lagi jatuh cinta lagi” ucap mama merayuku

“Iiih apaan sih ma” ketusku


    To : Syeila Dewi Afkarina

    Syei ini aku Raihan kekasihmu, syeila masih gak inget sama raihan?

    Raihan kangen sama syeila, raihan sedih waktu syeila ninggalin raihan

    raihan kangen banget sama syeila 

    mungkin masih bukan waktunya kita dipertemukan aku pamit..

                     Raihan Zainur Fatih

              Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi


1 tahun kemudian…

                Kicauan burung terdengar merdu ditelingaku, langkah kakiku tak menentu hingga kudapati seseorang mendekap dan memelukku membuyarkan semua lamunanku.

“Aku merindukanmu jangan tunggalkan aku lagi” ucap seseorang yang memelukku

“Rai maafin aku” ucapku menangis

“Syel jangan nangis ada aku disini, aku mencintaimu” ucap raihan

“Maafin aku rai” ucapku sesenggukan

Raihan memeluk dan mengelus rambutku, aroma ini yang sudah lama tak kudengar kini kembali menghiasi diri.

“Syeila ayo kita ke taman” ajak raihan

“Rai aku gak mau” jawab syeila

“Beneran nih gak mau?” kata raihan

“Iyalah gak mau… gak mau nolak maksudnya” jawab syeila sambil tersenyum

“Kamu lumayan ya” timpal raihan sumringah

“Lumayan apanya sih! Gak jelas” ucap syeila

“Lumayan nyebelin! Iiih bikin geram orang aja” ucap raihan

“Emang Eak” jawabku sambil tertawa

“Mulai deh! Becanda mulu” ucapnya

Dengan segera raihan menarik tanganku dan segera membawaku ke taman, terima kasih Tuhan Karena telah mempersatukanku dengan seseorang yang aku sayangi, dengan seseorang yang pernah rela memaksa hati hanya untuk memaksakan sebuah pergi.

THE END


*Siswi kelas XII MIPA

05 Januari 2024

SKENARIO TERINDAH

Oleh : Resi Agustin*

         Mentari terbit di ujung timur dengan diselimuti awan yang mendung, hembusan angin pagipun kencang menerpa tubuh dan mengurai lembut rambut anak sulung itu, semangat yang terus mengekar tak menjadikan lelah menjadi alasan untuk terus menggali ilmu setinggi-tingginya.

Cepat-cepat ia memunguti buku-buku pelajarannya dan bergegas untuk pergi ke sekolah.

”Naya ayo cepat ini sudah jam setengah tujuh, nanti kamu telat ke sekolah”. teriak si nenek memanggil cucu kesayanganya untuk berangkat kesekolah

“Iya nek ini Naya udah siap berangkat”. jawab Naya sambil terburu-buru

Iapun segera meraih tangan neneknya untuk bersalaman, karena baginya nenek adalah sumber kebahagiaan dalam hidupnya.

*****

Namanya  Naya, dia adalah anak perempuan yang berusia 18 tahun yang sedang duduk di bangku SMA kelas akhir, Naya hanya hidup berdua dengan neneknya yang sudah berusia tua dan akhir-akhir ini si nenek sering sakit-sakitan, sedangkan kedua orang tua Naya mereka meninggalkan Naya sejak kecil kepada neneknya dan bahkan sampai saat ini Naya tidak tahu keberadaan mereka dimana, menurut Naya kedua orang tuanya sudah melupakan dan tidak peduli terhadap Naya. Namun dengan bersama si nenek Naya juga merasakan kasih sayang yang sama seperti kasih sayang dari kedua orang tuanya. Naya juga bukan anak yang pintar tapi Naya adalah anak yang rajin dan penurut, Naya memiliki tekad dan mimpi besar yang harus ia gapai.

“Jika ditanya soal cita-cita aku ingin jadi pramugari, aku ingin terbang dan mengelilingi dunia untuk mewujudkan mimpiku”. Ucapnya

Akan tetapi keinginanya hanya berujung khayal karena Naya sadar bahwa dirinya merupakan anak dari keluarga yang ekonominya rendah, Naya hanya menyembunyikan harapannya dalam-dalam berharap suatu saat nanti harapannya menjadi kenyataan.

*****

         Seiring berjalannya waktu ia berbincang-bincang dengan Sinta yang merupakan teman masa kecilnya.

“Ehhhh sadar gak sih Nay, bentar lagi kita udah mau lulus”. gumam sinta

“Iya nih sin, udah gak kerasa ya”. balas Naya

“Setelah lulus dari sini kamu mau lanjutin kemana?”. tanya Sinta

“Enggak sin, aku gak mau lanjut kuliyah”. sahut Naya dengan raut muka yang agak muram.

        Kring…. kring…. kring…. kring! bel sekolah berbunyi begitu kerasnya pertanda waktu pelajaran telah usai. Naya berpamitan pada sinta untuk pulang duluan, karena tadi siang Naya mendapat kabar bahwa penyakit neneknya kambuh. sesampainya dirumah Naya langsung membawa neneknya ke rumah sakit terdekat, lalu dokterpun mengatakan kalau neneknya harus dirawat inap disana.

***

       Keesokan harinya di sekolah teman-temannya mulai menanyakan keberadaan Naya.

“Eh kalian lihat Naya enggak?”. tanya Sinta pada teman sekelasnya

“Hmm…. gak tau sin biasanya kan bareng sama lo”. sahut teman-temannya

“Iya gue telfon gak di angkat, terus gue chat gak dibalas”. Ucap sinta lagi

“Coba deh lo lihat lagi, siapa tahu Naya chat lo sekarang”. Sinta pun merogoh handphonenya lalu memasang wajah cemas, setelah membaca pesan dari Naya. Sintapun bergegas mengambil tasnya lalu pergi kerumah sakit untuk menemui Naya disana, ternyata sesampainya disana Sinta melihat Naya yang sedang duduk lemas dan nampak matanya membengkak, sinta langsung menghampiri Naya dan langsung memeluk erat Naya sambil menangis sejadi-jadinya.

“Udah nay, yang sabar ya, Allah tahu kamu kuat kok”. kata sinta sambil mengelus Naya

“Gak bisa sin, naya gak bisa terima kenyataan ini, naya gak punya siapa-siapa lagi selain nenek”. Ucap Naya sambil menangis

“Kamu gak boleh bilang gitu, kan masih ada aku, aku akan selalu menjadi bahu untuk jadi sandaranmu” ucap Sinta kembali, namun Naya masih saja tidak terima dengan apa yang telah terjadi dan ia merasa tidak punya siapa-siapa lagi.

Sinta tidak tega melihat kehidupan sahabatnya itu, ia paham betul perasaan yang sedang mencekam dalam dirinya, ia harus membuat sahabatnya kembali bangkit walau berada dalam kehidupan yang suram, kemudian Sinta membuka pelukan erat naya sambil menasehati nya dan menenangkan pikiran naya. Merekapun bersiap-siap untuk menuju pemakaman neneknya.

                                                                      *****         

         Seiring berjalannya waktu Naya dan Sinta pun lulus dari sekolahnya, masing-masing berjalan pada arah yang dituju mereka dengan scenario dari-Nya, Sinta menggapai keinginannya untuk kuliah sedangkan Naya bekerja untuk biaya hidup dan juga kuliahnya.

SEKIAN

*Siswi kelas XII MIPA

31 Desember 2023

TERNYATA TUHAN HANYA MENITIPKAN BUKAN MENETAPKAN

Oleh: Nur Imamah*

         Malam yang senyap, dan hembusan anginnya seakan-akan menyuruhku untuk beristirahat dengan lelap, namakau Roselly Anastasia, teman-temanku sering memanggilku dengan sebutan Thya, aku adalah seorang santri yang menetap di Pesantren Nurul Iman, kesunyian malam ini melayang mengikuti angan-angan. Yoga Andrean, lebih akrab dipanggil Andre, dia laki-laki yang menghantui pikiranku wajahnya selalu hadir disetiap angan-anganku, hingga menghapus rasa sepi dihidupku dia cinta pertamaku dan memori indahku namun, kisah cinta ini harus berakhir karna Andre dijodohkan oleh orang tuanya dan Andre juga berhenti dari sekolah dan pindah sekolah bersama tunangannya, kita memang satu sekolah, satu angkatan yang berada dinaungan pesantren yang sama namun kita beda jurusan.

***

         Keesokan harinya seperti aktivitas santri pada umumnya kami selalu sibuk dengan kegiatan pondok, hari itu aku bergegas untuk pergi ke sekolah aku berangkat lebih awal dari sebelumnya karna harus mengerjakan piket, sesampainya disekolah ternyata sang pujaan telah menunggu.

“Ehhhh….Andre tumben pagi“.Tanyaku

”Iya nih! aku lagi banyak masalah dipondok jadi aku bergegas untuk datang lebih awal karana aku merasa lebih baik disini, bersamamu “.jawabnya.

"Iiih... mulai nih" ucapku sambil tersipu malu.

Dia adalah kekasihku, tak jarang ia selalu bercerita tentang kehidupan pribadinya mulai dari kehidupan keluarganya, tentang teman-teman satu pondoknya yang suka membully dan bahkan memfitnahnya. dan yang lebih parahnya lagi sampai-sampai Andre diusir dari kamarnya dipondok dan akhirnya Andre tidur dengan pengurus di pondoknya.

“Thya, tetap disini ya, jangan pergi aku gak punya seseorang yang bisa ngertiin aku kecuali kamu”. ucap Andre kembali merespon bicaraku.

“Dre aku nggak akan kemana-mana kok, tenang aja kalo kamu mau cerita sini aku dengerin”.balasku.

Bunyi bel sekolah berbunyi tibalah saatnya jam pelajaran berlangsung kita kembali ke kelas masing-masing.

Selang beberapa jam berlalu jam makan siangpun tiba teman-teman sekelasku mulai memadati kantin untuk beristirahat, namun tidak denganku, aku memilih untuk menghabiskan jam istirahatku dikelas, kusandarkan badanku dikursi berharap dapat sekedar melepaskan penat, tanpa sengaja kulirik kertas putih disamping tas ranselku dan aku sedikit kaget karena kudapati namaku tertulis didalamnya.

TO : Thya (My Love)

Thiya aku pamit pulang duluan ya karna hari ini orang tuaku kepondok dan akan membawaku pulang untuk sementara waktu, selama tiga hari kedepan aku gak akan masuk sekolah "Jangan Rindu" hatiku tetap milikmu.

                                                                             From : Andrean

“Hemmm….dre dre pulang lagi". ucapku dengan wajah sedikit kesal

 Segera kumengemas buku-buku pelajaranku dan pulang ke pesantren.

*** 

Hari berlalu begitu cepat tanpa terasa tiga hari telah berlalu dan hari ini adalah hari yang kutunggu-tunggu, sesuai dengan janjinya Andre akan kembali masuk kesekolah hari ini, seperti hangatnya mentari pagi aku juga begitu bersemangat untuk berangkat kesekolah, seperti biasa karena hari ini ada jadwal piket aku berangkat pagi-pagi berharap ia telah menungguku. namun fakta tak sesuai dengan harapan, sesampainya di sekolah tak kudapati dia yang kunanti, menitpun berputar sekian lama aku menunggu kedatangan Andre iapun tak kunjung datang, apakah ia tidak menepati janjinya?. 

Esok harinya seperti biasa sebelum jam pelajaran berlangsung aku dan teman-temanku bercanda tawa sambil menikamati teh hangat yang kami pesan dikantin. akan tetapi walaupun ragaku disini namun tetap saja pikiranku masih saja memikirkan Andre.

"Kemana Andre? sudah satu minggu dia tidak masuk sekolah" gumamku dalam hati.

Tiba-tiba kuterbangun dari khayalku saat tiba-tiba aku dikagetkan dengan tampak sesosok laki-laki yang sangat kukenal itu yah, benar itu Andre. iapun berjalan menghampiriku yang sedang duduk didepan kelas.

"Gimana kabarnya Thya?" tanya Andre.

“Aaa….lah Andre lama banget sih kamu pulang”. ketusku tidak terima

"Maaf yah, aku gak nepatin janjiku karena ada hal lain yang memaksaku untuk tidak kembali ke pesantren" jelasnya.

"Emangnya hal apa dre?" tanyaku padanya.

"Eng... enggak, gak ada apa-apa" ia sedikit gugup

"Jangan bohong dre, sejak kapan sih kamu main rahasia-rahasiaan gini sama aku? apa kamu sakit? atau dibully lagi sama temanmu dipondok?" timpalku mulai kesal.

"Enggak yha, aku baik-baik saja, tapi aku ingin memberitahumu sesuatu, ini menyangkut masa depan kita" ucapnya dengan nada serius dan mulai menundukkan pandangan.

"Sebenarnya apa yang terjadi dre?" ucapku lagi

"Sebenarnya kemaren aku dijodohin sama orang tuaku, aku pulang karena itu yha" jelasnya.

"Hahhh? apa?? ini serius dre?" isakku meyakinkan.

"Iya yha, maaf... maaf yha... aku sudah mencoba meyakinkan orang tuaku bahwa aku mencintai kamu, dan aku tidak bisa hidup tanpa kamu" lanjutnya

Dadaku begitu sesak dan mataku terus mengeluarkan tumpahan air mata tak sanggup lagi aku membendungnya. aku berlari menuju arah pulang dan menangis sejadi-jadinya didalam kamar, berharap semua ini tak pernah terjadi. banyak dari teman-temanku menanyakan keadaanku saat ini namun, aku masih tetap terdiam dan tak ingin berbicara apapun hanya air mata yang terus mengalir deras diwajahku.

Kini aku sudah lelah dengan apa yang terjadi, rasa kesal, sesal dan kecewa menyatu berselubung dalam benakku, yang ku rasakan saat ini hanyalah sakit dan hancur terasa dunia begitu hampa tak ada apa-apa, setelah satu minggu kemudian kudengar dari teman sekelasku bahwa Andre sudah pindah sekolah dan berhenti mondok. aku mulai mencoba menghapus kesedihan ini membuang jauh-jauh hati dan perasaan ini hanyut bersama dia yang telah menjadi kenangan yang hanya singgah sebentar lalu pergi.

17 SEPTEMBER 2022…..cinta ini berakhir dengan perpisahan diantara kami dan dengan jarak yang kuharap tak akan mempertemukan kami lagi .

SEKIAN

 *Siswi Kelas IX MTs ASWAJ

28 Desember 2023

PENYESALAN SEORANG AYAH

Oleh : Sarirotul Kutsiyah*

        Malam sudah petang kulihat seseorang yang masih menangis di kamar temanku, ku dekati orang itu dan ternyata Leni teman dekatku. Dia adalah teman sekosanku, ku hampiri Leni dan bertanya apa yang sedang terjadi pada dirinya.

“Leni ada apa?, kenapa kamu menangis?”. Tanya Vera teman dekatnya

“Gak apa-apa kok aku baik-baik saja”. Jawab Leni sambil menangis dan menundukkan kepala

“Cepat cerita apa yang sedang terjadi, ada apa dengan dirimu?”.tanya Vera sambil mengusap air mata yang keluar dari mata Leni

”Mamaku meninggal diluar negeri, setelah mama bekerja buat aku disana, dan semenjak mama meninggal ayah berubah ayah tidak pernah ngasih kabar lagi dan tidak peduli lagi sama aku”. Sahut Leni sambil menundukkan kepala dan meneteskan air mata.

“Ya…… sudah sabar jangan menangis lagi kan ada aku disini, kalau ada apa-apa bilang saja aku selalu ada buat kamu kok”. Sahut Vera sambil tersenyum

“Makasih ya Vera kamu memang teman terbaikku”. sahut Leni dan membalas senyuman dari Vera.

***

        Beberapa minggu kemudian, Leni sudah tidak seperti biasanya Leni berubah Leni tidak pernah tersenyum maupun bahagia sedikitpun dan Leni sering menyendiri dikamarnya, entah ada apa dengannya.

        Matahari pagi pun bersinar, Vera sudah menyiapkan makanan buat sarapan pagi bersama Leni, tapi Vera tidak pernah melihat Leni dari tadi.

“Leni……… Leni….”. teriakan Vera memanggil Leni untuk sarapan pagi. Ternyata Leni tidak menjawab, ketika aku samperin ke kamarnya dan ternya dia sedang tidur.

“Ya Allah Leni kok masih tidur? ayo bangun kita sarapan pagi”. Setelah ku bangunin berkali kali ternyata Leni tetap tidak bergerak, kudekati dia setelah ku lihat detak jantungnya “ Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Leni”. Teariakku ternyata Leni sudah tidak benyawa, Leni meninggal dunia.

“Leni bangun… aku sudah tidak punya siapa-siapa disini, jangan tinggalin aku Leni”. Ucap Vera sambil menangis.

         Kemudian waktu terus berjalan, proses pemakaman Leni oleh warga setempat tapi Vera tidak ikut ke pemakaman Leni karana tak sanggup melihat teman dekatnya sudah pergi ,Vera hanya menangis dikamar Leni sambil memegang foto Leni. Beberapa saat Vera melihat sesuatu dibawah buku dan tenyata ada kertas putih yang terlipat kemudian mulai ku buka kertas itu kata demi kata kuterhanyut dalam bayangan Leni

                      From : Leni

                      To      : Ayah

       Ayah maafkan Leni yang selama ini memang sengaja menyembunyikan penyakit ini pada ayah karna leni tidak mau ayah kepikiran tentang penyakit leni dan kata dokter penyakit tumor ini tidak bisa disembuhkan kok. Leni tidak ingin merepotkan ayah dan bikin ayah kepikiran sama Leni, Leni hanya ingin kasih sayang dan perhatian lebih dari ayah tapi ayah sekarang sudah berubah semenjak mama meninggal, ayah tidak pernah peduli lagi sama Leni dan sudah tidak sayang lagi sama Leni.  

Maafkan Leni ayah ……meskipun ayah tidak peduli, Leni tetap sayang ayah

                                                                                                                  SALAM LENI

      Setelah Vera sudah membaca kertas putih itu, Vera cepat-cepat meberitahu tentang apa yang sudah terjadi pada Leni dan mengirim foto surat yang Leni tulis pada ayahnya. seiring berjalannya waktu setelah sayah Leni tahu apa yang sebenarnya terjadi dan sudah membaca surat yang Vera kirim kepada ayah Leni. Ayah leni menangis dan menyesal akan apa yang telah ia perbuat.

       “Maafkan ayah ya nak, ayah sudah gagal menjadi sosok ayah yang bertanggung jawab, ayah tidak bisa membahagiakan dirimu dan maafkan ayah yang selalu menyakiti dirimu nak ayah sadar bahwa ayah mempunyai putri cantik dan kuat seperti dirimu. MAAFKAN AYAH YA NAK !!!!!!!!”. 

 

 *Siswa Kelas IX MTs Aswaj

14 September 2023

Inikah Takdirku

Oleh : Mutik Syukri*

Ini adalah kisah seorang gadis perindu, namanya Natali, dia merupakan sosok yang di penuhi oleh senyuman yang tak pernah pudar dalam hidupnya. Begitupun kebahagiaan selalu menyertai Natali di setiap langkahnya.

Pada hari-hari biasanya, Natali pergi ke sekolah, dia berangkat dengan diantar oleh seseorang yang amat dicintainya yang tak lain adalah Radit, dia adalah kekasih Natali. Keduanya telah lama menjalin asmara dan di tahun ini merupakan tahun ke empat mereka menjalin ikatan yang mereka menyebutnya “Jalan Menuju Kebahagiaan”, kasih sayang yang diberikan Natali kepada Radit tak pernah terhenti, begitupun sebaliknya, Radit pun tak pernah menoleh ke cewek lain yang lebih mempesona dari Natali. Ikatan cinta keduanya telah sering diterpa cobaan, namun dengan keyakinan dan komitmen keduanya tetap menjalin hubunganbukan hanya itu bahkan keduanya semakin harmonis dan romantis walau dihujam beribu-ribu masalah.

Pada suatu ketika natali bertanya kepada radit,

“Sampai kapan engkau akan berada di sampingku?”, 

Aku akan pergi jika si bisu berkata kepada si tuli bahwa si buta melihat si lumpuh berjalan” ucap Radit seraya tersenyum. 

Setelah mendengar jawaban dari Radit lalu wajah Natali dipenuhi oleh raut harapan dan kesenangan.

***

Suatu hari setelah pulang sekolah, tidak seperti biasanya ayah Natali menjemputnya, Natali pun kaget melihat ayahnya datang. Karena, ayah Natali biasanya masih ada di kantor saat ia pulang sekolah.

“Ayo cepat masuk ke dalam mobil” ujar ayah Natali,

Baik yah, aku akan segera masuk” jawab Natali sambil berjalan ke mobil, “Nak setelah sampai di rumah kamu harus ganti baju dengan pakaian yang rapi” kata ayah Natali sambil menyetir mobil,

“Emang ada apa yah, kok aku harus berpakaian yang rapi” tanya Natali, “Sudahlah kita lihat saja nanti, karena ini adalah kejutan” jawab ayah Natali sembari tersenyum.

Setelah sesampainya di rumah, Natali pun langsung berganti pakaian dan ia menemui ayahnya yang sedang berada di ruang tamu. Natali kembali bertanya kepada ayahnya,

Emang ini ada apa sih kok aku harus berpakaian rapi begini?” tanya Natali dengan wajah penasaran, namun ayah Natali pun cuma terdiam sembari tersenyum.

Tak lama setelah itu tiba-tiba datang dua orang laki-laki dan ternyata dia adalah teman kerja ayah Natali beserta putranya, karena merasa gak enak, akhirnya Natali pergi dari ruang tamu dan pergi ke kamarnya.

Setelah kedua tamu ayahnya pulang, akhirnya ayah Natali pergi menemuinya.

“Nat, ayah masuk ya?” tanya ayah natali,

“Silahkan yah” jawab Natali yang sedang berada di dalam kamarnya, “Tumben ayah menemuiku bukannya tadi ayah sedang ada tamunya?” tanya Natali dengan nada yang sedikit keras,

“Owh soal itu, tamu ayah sudah pulang tadi dan ayah ingin memberitahukan sesuatu kepada kamu” jawab ayahnya sembari tersenyum,

“Tentang apa yah?” tanya Natali dengan wajah penasaran,

Kamu itu ayah jodohkan dengan putranya teman ayah” jawab ayah Natali, Setelah mendengar jawaban ayahnya, secara tak sengaja air mata pun berlinang membasahi raut wajah Natali. Ayahnya merasa bingung

“Kenapa kamu nangis Nat?, bukannya ini hal yang bagus?” tanya ayah Natali,

“Gimana sih, bukannya ayah sudah tau kalau aku itu sudah punya radit yang sangat menyayangiku” jawab natali sambil menangis,

“Sudahlah, turuti saja kata ayah, karena ini juga keinginan ibumu” tutur ayah Natali sambil berjalan keluar kamar.

Setelah itu, Natali langsung menelfon Radit,

Halo, Dit kamu ada di mana sekarang?“ tanya Natali,

“Aku sekarang lagi ada di rumah, emang ada apa kok tumben kamu menelvonku jam segini?” jawab Radit berbalik tanya dengan heran,

“Aku ingin memberi tahu sesuatu Dit”  jawab Natali sambil di guyur air mata, “Kenapa kamu nangis Nat?” tanya Radit dengan begitu herannya,

“Dit, ayahku telah menjodohkanku dengan anak teman sekantornya” jawab Natali dengan di penuhi kekecewaan,

“Apa? kamu serius Nat, tolong jangan bercanda ?” tanya radit dengan wajah serius

“Beneran Dit, ayahku yang menjodohkanku, bukan hanya itu bahkan ayahku tidak menghiraukan keberadaanmu” jawab Natali,

“Ya, kalau begitu apa boleh buat lagi pula itu sudah perintah orang tuamukan, jadi turutilah” ujar radit dengan tegarnya,

”Terus hubungan kita  bagaimana? apa akan berakhir dengan tragis?” tanya Natali dengan nada yang lemah,

”Ya, anggap saja kita gak pernah kenal dan gak pernah menjalin hubungan apa-apa” jawab Radit dengan begitu tenangnya

“Kok kamu gitu sih Dit, bukannya kamu sudah berjanji padaku kalau kamu akan selalu bersamaku sampai kapanpun?” tanya Natali dengan begitu herannya,

“Aku melakukan hal ini, karena aku ingin kamu bisa moveon dariku dan bisa fokus sama jodoh pilihan ayahmu, lagi pula ridho ilahi berada pada ridho orang tuamu dan untuk apa menjalin ikatan jika tidak mendapat restu dari orang tuamu” jawab Radit.

Setelah Natali mendengar kata-kata dari Radit, ia pun terdiam seketika, nampaknya bagi Natali ini adalah akhir dari perjalanan kisah cintanya dengan Radit yang telah lama mereka jalani. Karena Radit sudah gak sanggup lagi mendengar rintihan air mata Natali, akhirnya Radit pun menutup telfonnya dan meninggalkan Natali sendirian, kini kesunyian mulai mendekam kebahagiaan Natali.

***

Pada keesokan harinya, Natali pergi untuk menemui Radit di rumahnya “Permisi” ujar Natali sembari mengetuk pintu rumah Radit,

Berselang kemudian, akhirnya ada yang membukan pintu rumah Radit dan ternyata itu adalah mamanya Radit,

Oh ternyata pacarnya Radit, maaf ya lama menunggu soalnya tante lagi sibuk” ujar mamanya Radit

“Apa Raditnya ada tante?” tanya natali,

“Raditnya baru aja keluar barusan” jawab mamanya Radit sembari tersenyum

Oh, ya udah kalau begitu Natali pamit pulang dulu ya tante” pamit Natali dengan nada lembut

Enggak mau nunggu Raditnya pulang dulu?“ tanya mamanya radit,

Tidak usah tante” jawab Natali. Akhirnya Natali pulang dengan rasa  kecewa yang menyelimuti dirinya.

Tak lama berselang, akhirnya Radit pun pulang dan dia langsung menemui mamanya yang sedang menonton televisi di ruang tamu,

“Aku pulang”  ujar Radit dengan begitu lantangnya,

“Kamu dari mana saja sih Dit?” tanya mamanya

“Biasalah mam, baru datang jalan-jalan mumpung hari ini libur” jawab Radit, “Tadi ada pacarmu kesini dan dia nyari kamu” ucap mama Radit

“Maaf ya mam sebelumnya, jangan sebut lagi soal itu karena mulai sekarang Natali sudah bukan pacarnya Radit “ jawab Radit dengan serius, setelah mendengar kenyataan itu tiba-tiba mamanya bangkit dari tempat duduknya,

“Emang ada masalah apa Dit, kok kamu bisa putus dengan Natali?” tanya mama Radit dengan sedikit emosi,

“Sabar dulu dong mam, aku punya alasan kuat kenapa aku putusin Natali” jawab Radit dengan tergesa-gesa

“Emangnya alasan apa yang bisa membuatmu mutusin Natali begitu saja?” tanya mamanya dengan serius,

“Natali telah di jodohkan oleh ayahnya dengan orang lain mam” jawab Radit dengan rasa kecewa,

“Mama paham dengan apa yang kamu rasakan saat ini, dan mama rasa itu adalah keputusan yang terbaik untuk masa depan kalian” ujar mama Radit sembari tersenyum, Radit pun tersenyum juga seakan dirinya sejalan dengan mamanya. Agar Radit bisa benar-benar bisa melupakan Natali, ia pun pindah sekolah ke tempat yang jauh agar Natali tidak bisa menemukannya, meskipun merasa asing di sekolah barunya, namun Radit merasa cukup bahagia walau dia tidak bertemu lagi dengan Natali.

***

Tiga tahun telah berlalu, semenjak Radit memilih memutuskan natali dan menghilang dari sudut pandangan Natali, akhirnya Radit bertemu dengan sosok yang hampir sama dengan wajah Natali yang selalu dipenuhi dengan kebahagiaan dan senyuman. Benih luka-luka lama kian bersemayam dan iapun mulai di hantui remang-remang kerinduan kepada Natali. Radit biasa memanggilnya Silvia, ia adalah teman kuliah Radit, mereka telah lama berteman semenjak pertama kali masuk kuliah, namun ternyata silvia secara diam-diam menaruh rasa dan harapan kepada Radit.

Tibalah pada suatu hari, Radit dan Silvia pergi bersama untuk jalan-jalan ke alun-alun kota, keduanya sangat larut dalam kebahagiaan, lalu mereka pun mampir di sebuah warung kopi dan disitulah awal kisah cinta barunya dimulai, semua yang selama ini mereka rasakan,

“aku ingin mengutarakan isi hatiku selama ini kepada dirimu Silvia, jadi aku mohon tolong dengarkan ya, aku mohon“  ujar Radit dengan sedikit gugup,

Namun Silvia hanya bisa terdiam, lalu suasana itupun seketika berubah mendebarkan, karena Silvia juga menaruh rasa yang sama kepada Radit, namun silvia enggan mengutarakannya,

“Dari dulu sebenanya aku memang sudah memendam rasa terhadapmu“  ucap Radit dengan begitu serius,

“Sebenarnya aku juga memiliki rasa yang sama kepadamu dit, namun aku malu mengutarakannya kepadamu“ ucap Silvia dengan wajah yang sedikit memerah

“Namun aku tidak akan memintamu untuk menjadi pacarku melainkan sebagai calon istriku”  sambung Radit dengan begitu tulusnya,

”Aku jadi malu nih” kata silvia dengan tersipu,

“Besok aku akan mengajak orang tuaku ke rumahmu, dan aku akan mempersunting dirimu” ujar Radit dengan romantis,

“Jadi kamu serius dit, kirain cuman bercanda doang” ujar silvia,

“Enggak aku serius kali ini” kata Radit, Silvia cuma bisa diam sembari tersenyum,

“Terkadang kita harus menoleh kebelakang demi menata masa depan walaupun masih ada kenangan yang menyakitkan” ujar Radit,

Setelah mendengar ucapan radit tadi, silvia pun bangkit dari kesunyiannya seraya berkata

“Baik…! aku ataupun dirimu bebas memilih, namun kita tidak bisa lepas dari konsekuensi pilihan kita sendiri” imbuh Silvia,

‘’Namun kali ini pilihanku tetap meminangmu” ujar Radit dengan wajah yang begitu polosnya,

Mendengar kata-kata Radit tadi, tampak wajah Silvia sedang di hiasi api cinta. Keesokan harinya, Radit bersama orang tuanya pergi ke rumah Silvia untuk membuktikan kepada Silvia bahwa apa yang ia katakan adalah benar, dan lantas saja orang tua Silvia merestui hubungan mereka berdua.

***

Dua tahun telah berlalu, Radit dan Natali sudah menikah dengan pasangannya masing-masing, pada suatu hari secara tidak sengaja Radit bertemu dengan Natali pada acara festival kota, setelah sekian lama mereka berpisah akhirnya mereka bertemu kembali tanpa basa-basi Radit menyapanya

“Hai Nat, apa itu kamu?” tanya Radit

“Eh kamu Dit, iya ini aku” jawab Natali

“Kenapa kamu bisa ada di sini?” tanya radit

“Aku lagi jalan-jalan nih Dit” jawab Natali

“Owh gitu ya Nat” respon Radit

“Terus kenapa kamu sendiri ada di sini?” tanya Natali

“Kebetulan tahun ini aku yang jadi ketua panitianya“ jawab Radit

“Owh iya Dit apa kamu masih ingat kisah antara kita dengan festival kota?” tanya Natali

“Tentu saja aku masih ingat, mana mungkin aku akan melupakannya begitu saja” jawab Radit seraya tersenyum

“Namun tampaknya, kini tinggal kenangan manis yang masih terukir” ujar Natali sembari menampakkan kesedihannya, namun Raditpun hanya terdiam seraya tersenyum, tampaknya antara Natali ataupun Radit sama-sama menyadari bahwa apa yang telah mereka lalui selama ini merupakan sekenario tuhan yang maha adil.


*Abdi Dhalem